๐Ÿ†

Kalkulator Juara Umum PORSADIN

Sistem Poin Resmi ยท Tingkat ULA ยท v3.0

๐Ÿ“‹ Sistem Poin Resmi PORSADIN VII

Juara Umum = akumulasi poin dari seluruh cabang lomba Tingkat ULA. Jika poin sama, tie-breaker: Juara I terbanyak โ†’ Juara II โ†’ Juara III โ†’ Harapan I โ†’ II โ†’ III. Jika semua sama = SERI (perlu sidang juri).

Juara I9
Juara II7
Juara III5
Harapan I3
Harapan II2
Harapan III1

๐Ÿ“– Petunjuk Penggunaan

  1. Klik "+ Tambah Kontingen" lalu ketik nama MDTA/kontingen
  2. Klik kartu kontingen untuk membuka input, isi jumlah tiap kategori juara
  3. Gunakan tombol + / โˆ’ atau ketik langsung angkanya
  4. Tambahkan semua kontingen yang ikut, lalu klik "Hitung Juara Umum"
  5. Jika ada poin SERI, sistem akan memberi peringatan โ†’ serahkan ke sidang juri resmi
  6. Gunakan "Edit Data" untuk koreksi tanpa reset ulang dari awal
โš ๏ธ Catatan Penting: Hanya untuk Tingkat ULA. Devile Kafilah dan cabang Tingkat Wustha tidak dihitung ke Juara Umum. Hasil kalkulator ini bersifat simulasi โ€” keputusan final tetap wewenang dewan hakim/juri resmi.
Juara Umum I
Juara Umum II
Juara Umum III
Seri โš ๏ธ
Belum Meraih Poin
No Kontingen J.I J.II J.III H.I H.II H.III Poin Keterangan
Berikut adalah penjelasan lengkap logika perhitungan Juara Umum yang digunakan dalam kalkulator ini, sesuai dengan sistem penilaian kejuaraan nasional yang berlaku pada PORSADIN.
Langkah 1
Kumpulkan Hasil Seluruh Cabang Lomba

Setiap kontingen (MDTA/kafilah) mengikuti berbagai cabang lomba. Dari setiap cabang, dicatat berapa kali kontingen tersebut meraih Juara I, II, III dan Harapan I, II, III. Data inilah yang menjadi dasar perhitungan.

โ„น๏ธ Yang dihitung hanya cabang Tingkat ULA. Cabang Tingkat Wustha memiliki klasemen sendiri dan tidak dimasukkan ke perhitungan Juara Umum. Devile Kafilah juga dikecualikan.
Langkah 2
Konversi Setiap Prestasi ke Nilai Poin

Setiap kategori juara memiliki nilai poin berbeda. Semakin tinggi prestasi, semakin besar poin yang diperoleh. Berikut tabel konversi resminya:

KategoriNilai PoinAlasan Pembobotan
๐Ÿฅ‡ Juara I9 poinPencapaian tertinggi โ€” selisih besar dari posisi 2
๐Ÿฅˆ Juara II7 poinSelisih 2 poin dari Juara I โ€” masih sangat kompetitif
๐Ÿฅ‰ Juara III5 poinSelisih 2 poin dari Juara II โ€” tetap diapresiasi tinggi
Harapan I3 poinSelisih 2 poin dari Juara III โ€” transisi ke harapan
Harapan II2 poinApresiasi partisipasi kompetitif
Harapan III1 poinTetap diakui โ€” mendorong semua kontingen berkontribusi
๐Ÿ’ก Mengapa poinnya tidak berurutan 6-5-4-3-2-1? Pembobotan ini disengaja agar kualitas lebih dihargai dari kuantitas. Satu Juara I (9 poin) lebih berharga dari satu Juara II + satu Harapan III (7+1=8 poin), sehingga kontingen didorong untuk benar-benar unggul di setiap cabang, bukan sekadar banyak ikut.
Langkah 3
Hitung Total Poin Setiap Kontingen

Total poin dihitung dengan rumus akumulasi sederhana:

Total Poin = (J1 ร— 9) + (J2 ร— 7) + (J3 ร— 5) + (H1 ร— 3) + (H2 ร— 2) + (H3 ร— 1)

Contoh perhitungan: Misalkan MDTA Nurul Hikmah meraih:

6ร— Juara I6 ร— 9 = 54
2ร— Juara II2 ร— 7 = 14
0ร— Juara III0 ร— 5 = 0
2ร— Harapan I2 ร— 3 = 6
1ร— Harapan II1 ร— 2 = 2
0ร— Harapan III0 ร— 1 = 0
Total Poin MDTA Nurul Hikmah = 54 + 14 + 0 + 6 + 2 + 0 = 76 Poin
Langkah 4
Urutkan Kontingen dari Poin Tertinggi

Setelah semua kontingen dihitung total poinnya, mereka diurutkan dari yang tertinggi ke terendah. Kontingen dengan total poin terbanyak menjadi Juara Umum I.

๐Ÿฅ‡ 1MDTA Miftahul Ulum84 poin
๐Ÿฅˆ 2MDTA Nurul Hikmah76 poin
๐Ÿฅ‰ 3MDTA Al-Miftah49 poin
4MDTA Nurul Jadid47 poin
Langkah 5
Penyelesaian Poin Sama (Tie-Breaker)

Jika dua atau lebih kontingen memiliki total poin yang sama, pemenang ditentukan secara bertahap menggunakan tie-breaker berikut ini (secara berurutan, berhenti di langkah pertama yang berbeda):

1
Bandingkan jumlah Juara I Kontingen dengan lebih banyak Juara I menang
2
Bandingkan jumlah Juara II Jika Juara I sama, bandingkan Juara II
3
Bandingkan jumlah Juara III Jika masih sama, bandingkan Juara III
4
Bandingkan Harapan I, II, III Lanjutkan hingga Harapan III jika masih belum terbedakan
โš ๏ธ
SERI โ€” Sidang Juri Jika semua kategori identik, tidak ada pemenang yang bisa ditentukan secara otomatis. Perlu keputusan dewan hakim/juri resmi.
๐Ÿ“Œ Contoh kasus tie-breaker: Kontingen A dan B sama-sama punya 30 poin. Kontingen A punya 3 Juara I, Kontingen B punya 2 Juara I. Maka Kontingen A menang meski total poin sama โ€” karena kualitas (Juara I lebih banyak) menjadi penentu.
Langkah 6
Penomoran Rank โ€” Sistem Olympic Ranking

Kalkulator ini menggunakan Olympic Ranking, yaitu sistem penomoran rank yang dipakai di kompetisi internasional resmi. Cara kerjanya:

  • Jika 2 kontingen mendapat rank yang sama (karena seri), rank berikutnya dilewati.
  • Contoh: Jika ada 2 kontingen rank 1 (seri), maka tidak ada rank 2 โ€” langsung rank 3.
  • Ini berbeda dari sistem "dense ranking" yang tetap melanjutkan rank 2.
โŒ Dense Ranking (salah)
A โ€” 80 poin โ†’ Rank 1
B โ€” 80 poin โ†’ Rank 2 โ† keliru
C โ€” 70 poin โ†’ Rank 3
โœ… Olympic Ranking (benar)
A โ€” 80 poin โ†’ Rank 1
B โ€” 80 poin โ†’ Rank 1 (seri)
C โ€” 70 poin โ†’ Rank 3 โ† skip rank 2
Prinsip Utama
Filosofi Sistem Poin Kejuaraan Nasional

Sistem ini dirancang dengan tiga prinsip utama yang menjamin keadilan dan integritas kompetisi:

โš–๏ธ
Keadilan Proporsional
Setiap prestasi dihargai secara proporsional. Prestasi lebih tinggi = poin lebih besar, mendorong kontingen untuk tampil maksimal di setiap cabang.
๐Ÿ…
Kualitas di atas Kuantitas
Satu Juara I lebih bernilai dari kombinasi juara rendah. Kontingen yang konsisten meraih juara utama akan lebih diuntungkan.
๐Ÿ”
Transparansi & Verifikasi
Semua perhitungan bisa ditelusuri langkah demi langkah. Hasil kalkulator ini hanya sah sebagai simulasi โ€” keabsahan final tetap di tangan juri resmi.